Jumat, 20 Januari 2017

Hanya sebuah karya

SEDERHANA
Ketika semua hal yang seharusnya terucap lewat lisan namun tak mampu kusuarakan, dapatkah kau mendengarnya? Ketika mata yang hanya menatap dan menoleh ke arahmu sebagai gantinya. Aku menyukaimu, aku mencintaimu. Ya, dan tak ada satupun kata yang dapat mewakili untuknya. Karena sejauh aku berpikir, hanya kerumitan yang tampak. Dapatkah kau membuatnya lebih sederhana. Sesederhana aku tertawa karenamu. Mampukah??
Kusampaikan kata pengantarku sebelum kujelaskan semua. April, entah mengapa mulai dari pertengahan bulan april, tepatnya 21 April 2014 sekitar 45 bulan yang lalu, satu peristiwa yang sama sekali tidak penting untuk diingat memberikan efek yang begitu indah namun terkesan samar, dapatkah aku mencegahya untuk selalu tidak mengingatnya?
Semua berawal dari tahun 2014 bulan April di mana aku telah dibuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya, walaupun aku mungkin pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Namun, pada saat itu rasanya sangat berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya dialah wanita  menggunakan jilbab berwarna biru yang menutup sebagian wajahnya sampai di bawah matanya. Matanya yang membuatku bertanya, apakah dia orang yang telah membuat makanku tak enak dan tidurku tak nyenyak, karena pada saat itu aku hanya dapat memikirkannya, entah apa yang mengahntuiku sehingga aku serasa dihipnotis olehnya. Karena tertarik, maka aku berusaha mendapatkan kontaknya,   pada akhirnya aku mendapatkan kontaknya untuk dapat berhubungan dengannya, bukan hanya berhubungan dengannya, namun saya dapat melihat koleksi-koleksi fotonya yang membuatku terkagum-kagum. Hingga beberapa minggu kemudian, aku menyatakan cintaku kepadanya, dan dia menerimaku keesokan harinya, alhamdulillah yah. Hubungan yang aku jalani bersamanya tidak berjalan mulus, melainkan kami sering putus nyambung karena permasalahan sepele terutama pada saat aku telah menginjak bangku SMA dan mempunyai kesibukan lebih, karena memang dari SMP ke SMA saya telah sangat berubah, yang dulunya aku anak yang kurang dalam soal pergaulan menjadi anak yang dapat bergaul dengan orang-orang di sekitarku.  Pada akhirnya kami benar-benar berpisah. Lama kami menjalin hubungan yaitu kurang lebih 16 bulanan lah.
Hingga sekarang saya masih mencintainya, masih menyayanginya. Hanya saja, saya menjelaskannya lewat situasi dan kondisi yang berbeda. Mengabadikannya dengan cara mengingat, mengetiknya dalam selembar kertas hvs ini. Mengapresiasikan hal yang membuat hatiku bergejolak ada begitu banyak cara, bahkan terlalu banyak cara. Dan mungkin apa yang aku lakukan berbeda dengan dia dan mereka lakukan.
Aku tahu, bahkan amat tahu jika salah satu peristiwa yang kuingat kali ini satu hal yang tidak terlalu penting untuk salah satu tokoh yang kuikut sertakan dalam cerita ini. tokoh yang tak pernah tahu bahwa ia menjadi pemeran utama dalam kisahku kali ini. Aku sadar diri bahwa kepastian dirinya memikirkanku dalam setiap waktunya hanyalah beberapa kepastian dari puluhan ribu bahkan ratusan ribu kepastian yang lainnya. Sungguh peluang yang tidak menguntungkan. Namun begitu aku tidak mengutuk ataupun menyalahkan diri karena membuatnya istimewa dari yang lainnya dalam sudut pandangku. Membuatnya menjadi utama dari prioritas yang kuutamakan. Aku terlalu berlebihan?? Sebenarnya tidak, apapun yang membuatku tertawa meskipun dalam hal yang tidak masuk akal pun terkadang untuk mendedikasikannya aku membutuhkan sesuatu yang berlebihan untuk sekedar mewujudkan hal itu. Aku tahu, bahkan semua orang pun tahu dalam dirinya kesempurnaan itu tidaklah ada. Bukan hanya nyaman, menciptakan tawa dan tangis diwaktu yang bersamaan itu adalah salah satu kemampuan dari yang ada dalam dirinya. Dan aku menyukai itu secara sederhana.
Aku masih menyukainya. Aku akan berbohong jika aku menjawabnya tidak. Karena sesuatu yang kupegang teguh selama ini justru menyeretku ke dalam jurang kemunafikan dimana fikiran dan hatiku tidak sejalan. Dimana fikiran dan lisanku tidak mengatakan hal yang sama. Terlihat berbeda dari yang lainnya terkadang diperlukan saat semua kesempurnaan tak lagi dibutuhkan dan aku tak sekedar berharap untuk dapat tertawa bersamanya karena alasan yang sama.
Mengingat tentangnya adalah hal yang tidak sulit untukku. Melihat bagaimana caranya membuatku tertawa untuk hal yang kecil pun terkadang itu semua menjadi salah satu dari sekian banyak moment yang kuabadikan dalam memoriku. Entah mengapa memandangnya dari kejauhan adalah bahagiaku yang sederhana. Mengamatinya secara diam-diam dan kemudian tersenyum pelan karena melihat tawanya yang lucu dan khas boleh dibilang cawa” sederhana (dalam bahasa bugis). Sering kali aku bercerita kepada Tuhan. Menceritakan bagaimana hariku terlewat begitu saja dengan adanya dirinya dalam gambaran skenario hidupku. Dan terkadang aku juga berdo’a kepada Tuhan, terima kasih banyak telah menghadirkan dirinya dalam hari-hariku meski tak ada satupun kata sederhana yang dapat mewakili jika aku menyukainya lebih dari seorang teman. Aku tak ingin serakah atau berlebihan dengan berjuang keras untuk sekedar mendapatkan perhatiannya. Aku tak memerlukan semua itu sekarang. Aku tahu, menyukainya secara sederhana sudah lebih dari cukup. Cukup memandang dan memperhatikannya secara diam-diam. Cukup dengan jarak seperti ini aku sudah dapat menikmati tawanya meskipun bukan aku yang menjadi alasan ia tertawa. Itu tidaklah penting. Tidak apa-apa. Semuanya lebih dari cukup sesuai dengan takaran porsinya. Aku menyukainya, menyukai berbagai macam caranya untuk membuatku tertawa. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Dan aku mecintainya. Sederhana bukan?? :D Terima kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar