SEDERHANA
Ketika
semua hal yang seharusnya terucap lewat lisan namun tak mampu kusuarakan,
dapatkah kau mendengarnya? Ketika mata yang hanya menatap dan menoleh ke arahmu
sebagai gantinya. Aku menyukaimu, aku mencintaimu. Ya, dan tak ada satupun kata
yang dapat mewakili untuknya. Karena sejauh aku berpikir, hanya kerumitan yang
tampak. Dapatkah kau membuatnya lebih sederhana.
Sesederhana aku tertawa karenamu.
Mampukah??
Kusampaikan
kata pengantarku sebelum kujelaskan semua. April, entah mengapa mulai dari
pertengahan bulan april, tepatnya 21 April 2014 sekitar 45 bulan yang lalu, satu
peristiwa yang sama sekali tidak penting untuk diingat memberikan efek yang
begitu indah namun terkesan samar, dapatkah aku mencegahya untuk selalu tidak
mengingatnya?
Semua
berawal dari tahun 2014 bulan April di mana aku telah dibuatnya jatuh cinta
pada pandangan pertama dengannya, walaupun aku mungkin pernah bertemu dengan
dia sebelumnya. Namun, pada saat itu rasanya sangat berbeda dengan waktu-waktu
sebelumnya dialah wanita menggunakan
jilbab berwarna biru yang menutup sebagian wajahnya sampai di bawah matanya.
Matanya yang membuatku bertanya, apakah dia orang yang telah membuat makanku
tak enak dan tidurku tak nyenyak, karena pada saat itu aku hanya dapat
memikirkannya, entah apa yang mengahntuiku sehingga aku serasa dihipnotis
olehnya. Karena tertarik, maka aku berusaha mendapatkan kontaknya, pada
akhirnya aku mendapatkan kontaknya untuk dapat berhubungan dengannya, bukan
hanya berhubungan dengannya, namun saya dapat melihat koleksi-koleksi fotonya
yang membuatku terkagum-kagum. Hingga beberapa minggu kemudian, aku menyatakan
cintaku kepadanya, dan dia menerimaku keesokan harinya, alhamdulillah yah.
Hubungan yang aku jalani bersamanya tidak berjalan mulus, melainkan kami sering
putus nyambung karena permasalahan sepele terutama pada saat aku telah
menginjak bangku SMA dan mempunyai kesibukan lebih, karena memang dari SMP ke
SMA saya telah sangat berubah, yang dulunya aku anak yang kurang dalam soal
pergaulan menjadi anak yang dapat bergaul dengan orang-orang di sekitarku. Pada akhirnya kami benar-benar berpisah. Lama
kami menjalin hubungan yaitu kurang lebih 16 bulanan lah.
Hingga
sekarang saya masih mencintainya, masih menyayanginya. Hanya saja, saya
menjelaskannya lewat situasi dan kondisi yang berbeda. Mengabadikannya dengan
cara mengingat, mengetiknya dalam selembar kertas hvs ini. Mengapresiasikan hal
yang membuat hatiku bergejolak ada begitu banyak cara, bahkan terlalu banyak
cara. Dan mungkin apa yang aku lakukan berbeda dengan dia dan mereka lakukan.
Aku
tahu, bahkan amat tahu jika salah satu peristiwa yang kuingat kali ini satu hal
yang tidak terlalu penting untuk salah satu tokoh yang kuikut sertakan dalam
cerita ini. tokoh yang tak pernah tahu bahwa ia menjadi pemeran utama dalam
kisahku kali ini. Aku sadar diri bahwa kepastian dirinya memikirkanku dalam
setiap waktunya hanyalah beberapa kepastian dari puluhan ribu bahkan ratusan
ribu kepastian yang lainnya. Sungguh peluang yang tidak menguntungkan. Namun
begitu aku tidak mengutuk ataupun menyalahkan diri karena membuatnya istimewa
dari yang lainnya dalam sudut pandangku. Membuatnya menjadi utama dari
prioritas yang kuutamakan. Aku terlalu berlebihan?? Sebenarnya tidak, apapun
yang membuatku tertawa meskipun dalam hal yang tidak masuk akal pun terkadang
untuk mendedikasikannya aku membutuhkan sesuatu yang berlebihan untuk sekedar
mewujudkan hal itu. Aku tahu, bahkan semua orang pun tahu dalam dirinya
kesempurnaan itu tidaklah ada. Bukan hanya nyaman, menciptakan tawa dan tangis
diwaktu yang bersamaan itu adalah salah satu kemampuan dari yang ada dalam
dirinya. Dan aku menyukai itu secara sederhana.
Aku masih
menyukainya. Aku akan berbohong jika aku menjawabnya tidak. Karena sesuatu yang
kupegang teguh selama ini justru menyeretku ke dalam jurang kemunafikan dimana
fikiran dan hatiku tidak sejalan. Dimana fikiran dan lisanku tidak mengatakan
hal yang sama. Terlihat berbeda dari yang lainnya terkadang diperlukan saat
semua kesempurnaan tak lagi dibutuhkan dan aku tak sekedar berharap untuk dapat
tertawa bersamanya karena alasan yang sama.
Mengingat
tentangnya adalah hal yang tidak sulit untukku. Melihat bagaimana caranya
membuatku tertawa untuk hal yang kecil pun terkadang itu semua menjadi salah
satu dari sekian banyak moment yang kuabadikan dalam memoriku. Entah mengapa
memandangnya dari kejauhan adalah bahagiaku yang sederhana. Mengamatinya secara
diam-diam dan kemudian tersenyum pelan karena melihat tawanya yang lucu dan
khas boleh dibilang cawa” sederhana (dalam bahasa bugis). Sering kali aku
bercerita kepada Tuhan. Menceritakan bagaimana hariku terlewat begitu saja
dengan adanya dirinya dalam gambaran skenario hidupku. Dan terkadang aku juga
berdo’a kepada Tuhan, terima kasih banyak telah menghadirkan dirinya dalam
hari-hariku meski tak ada satupun kata sederhana yang dapat mewakili jika aku
menyukainya lebih dari seorang teman. Aku tak ingin serakah atau berlebihan
dengan berjuang keras untuk sekedar mendapatkan perhatiannya. Aku tak
memerlukan semua itu sekarang. Aku tahu, menyukainya secara sederhana sudah
lebih dari cukup. Cukup memandang dan memperhatikannya secara diam-diam. Cukup
dengan jarak seperti ini aku sudah dapat menikmati tawanya meskipun bukan aku
yang menjadi alasan ia tertawa. Itu tidaklah penting. Tidak apa-apa. Semuanya
lebih dari cukup sesuai dengan takaran porsinya. Aku menyukainya, menyukai
berbagai macam caranya untuk membuatku tertawa. Aku menyukai semua yang ada
pada dirinya. Dan aku mecintainya. Sederhana
bukan?? :D Terima kasih.